Autentik.id, Gorontalo— Kepedulian terhadap pemenuhan gizi ibu hamil mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pemberdayaan Keluarga (KKN-PK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Desa Pentadio Barat, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, menghadirkan sebuah inovasi pangan lokal bernama Milumori.
Inovasi tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari program mahasiswa KKN-PK UNG pada 7 Agustus 2026. Milumori tidak sekadar dirancang sebagai minuman serbuk, tetapi menjadi pendekatan praktis untuk memperkenalkan pemanfaatan bahan pangan lokal sekaligus meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi, khususnya bagi ibu hamil dan ibu menyusui.
Milumori dibuat dengan memanfaatkan jagung dan daun kelor sebagai bahan utama, yang kemudian dipadukan dengan susu bubuk, gula, vanila, dan garam. Nama Milumori sendiri berasal dari kata “Milu” yang berarti jagung dan “Mori” yang merujuk pada moringa atau kelor.
Pemilihan kedua bahan tersebut bukan tanpa alasan. Jagung dan daun kelor relatif mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, sekaligus memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk pangan lokal yang praktis dan bernilai tambah.
Koordinator Desa KKN-PK UNG, Aditya Naufal Maulana, mengatakan kehadiran Milumori berangkat dari kepedulian mahasiswa terhadap persoalan kesehatan ibu dan anak di Desa Pentadio Barat.
“Milumori memberikan alternatif pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi produk yang lebih praktis dan bernilai gizi. Paling penting, masyarakat juga semakin memahami pentingnya pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan menyusui,” kata Aditya, Minggu (23/8/2026).
Menurutnya, program tersebut tidak hanya berorientasi pada pembuatan produk. Mahasiswa juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi selama masa kehamilan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif dalam mendukung kesehatan ibu dan anak.
Sasaran utama program ini adalah ibu hamil, terutama mereka yang masuk dalam kelompok berisiko tinggi. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa turut melibatkan kader PKK dan Posyandu agar pengetahuan yang diberikan dapat terus diterapkan di tengah masyarakat, bahkan setelah masa KKN berakhir.
“Program ini tidak hanya berbicara soal produk, tetapi bagaimana pengetahuan tentang gizi dapat diteruskan oleh masyarakat dan kader. Kami berharap manfaatnya tidak berhenti ketika mahasiswa selesai KKN,” ujarnya.
Aditya menjelaskan, pelaksanaan program diawali dengan identifikasi terhadap persoalan kesehatan ibu dan anak yang ditemukan di desa. Hasil identifikasi tersebut kemudian menjadi dasar dalam merancang produk, menyiapkan bahan dan peralatan, mengolah jagung serta daun kelor hingga menjadi serbuk, dan selanjutnya melakukan demonstrasi pembuatan Milumori kepada masyarakat.
Respons masyarakat terhadap inovasi tersebut pun dinilai cukup positif. Penggunaan bahan-bahan yang familiar dan mudah diperoleh membuat Milumori relatif mudah diterima. Bahkan, masyarakat berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai program KKN, tetapi dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Meski demikian, Aditya menegaskan bahwa Milumori diposisikan sebagai minuman pendamping atau makanan tambahan untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi. Produk tersebut tetap perlu dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang dan bukan sebagai pengganti makanan utama maupun obat.
“Milumori sendiri diposisikan sebagai minuman pendamping atau makanan tambahan untuk membantu pemenuhan energi dan zat gizi. Produk ini tetap harus dikonsumsi bersama makanan bergizi seimbang dan bukan pengganti makanan utama maupun obat,” jelasnya.
Dukungan terhadap inovasi tersebut juga datang dari Pemerintah Desa Pentadio Barat. Kepala Desa Pentadio Barat, Supriadi Napu, menyambut baik program yang digagas mahasiswa KKN-PK UNG tersebut.
Menurut Supriadi, Milumori memiliki manfaat yang tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai produk usaha masyarakat berbasis potensi lokal desa.
“Milumori ini tidak hanya memiliki manfaat untuk kesehatan, tetapi juga punya peluang untuk dikembangkan menjadi UMKM masyarakat. Bahan bakunya tersedia di desa, terutama jagung dan daun kelor,” kata Supriadi.
Ia menilai, apabila dikelola secara serius, mulai dari proses produksi, pengemasan hingga pemasaran, Milumori berpeluang menjadi salah satu produk unggulan Desa Pentadio Barat yang mengangkat potensi pangan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-PK UNG, Fika Nuzul Ramadhani, menilai Milumori merupakan salah satu bentuk inovasi mahasiswa yang mampu menggabungkan tiga aspek penting, yakni edukasi kesehatan, pemanfaatan potensi pangan lokal, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya menghadirkan sebuah produk, tetapi juga mendorong masyarakat untuk melihat bahan pangan yang tersedia di sekitar mereka sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan sekaligus dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Dengan demikian, Milumori diharapkan tidak berhenti sebagai inovasi selama pelaksanaan KKN-PK UNG, tetapi dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Pentadio Barat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran gizi, memanfaatkan potensi pangan lokal, serta membuka peluang pemberdayaan ekonomi berbasis desa.
Autentik.id, Pohuwato— Dewan Pengurus Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Pohuwato periode 2026–2031 resmi dilantik…
Autentik.id, Parlemen — Pembahasan lanjutan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Penyelenggaraan Desa Tambang Berbasis Ramah…
Oleh : Farzikal Kumasi Ketua Komisariat PMII Pohuwato Autentik.id, — Hari ini Universitas sudah tidak…
Autentik.id, Parlemen— Panitia Khusus (Pansus) III DPRD Kabupaten Pohuwato mulai mengkaji secara serius rencana…
Autentik.id, Parlemen — Panitia Khusus (Pansus) III DPRD Kabupaten Pohuwato tengah memfinalisasi pembahasan tiga…
Autentik.id, Parlemen — Komisi II DPRD Kabupaten Pohuwato menggelar rapat dengar pendapat (RDP) bersama…
This website uses cookies.